REVOLUSI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM; PERAN KAUM MUDA INTELEKTUAL MUSLIM, MENYATU DENGAN UMAT ATAU MENYATU DENGAN “NEGARA”

Oleh: Taufiq Saifuddin[1]

BAB I

PENDAHULUAN

Polarisasi dunia pendidikan semakin memasuki babak baru di era kehidupan masyarakat agrari menuju masyarakat modern. Bingkai itu semakin pelik dengan dibukanya berbagai perguruan tinggi dengan sekian banyak disiplin ilmu yang ditawarkan. Arus dinamisasi yang seperti ini seharusnya membawa sebuah penciptaan atas tatanan masyarakat yang eksklusif-emosional-pragmatis menuju masyarat inklusif-kritis-transformatif. Upaya peningkatan taraf kehidupan yang memiliki acuan keberagaman adalah sesuatu yang tidak mudah, maka fungsi dari pendidikan adalah mengembalikan fitrah kemanusiaan menuju sebuah tatanan demokratis.

Kaum muda adalah sebuah generasi pelanjut estafeta sebuah peradaban, agenda perubahan perubahan selaru menggelora dalam denyut nadinya. Untuk itu kekuatan intelektual adalah sebuah keharusan yang terpatri di pundak seorang pemuda. Dunia pendidikan formal yang menjadi wadah institusional untuk menggali ilmu tidak seharusnya memposisikan dirinya pada taraf “kemapanan”. Sehingga eksklusifisme pendidikan semakin menguat dan mengakibatkan akses untuk menikamtinya semakin sulit.

Bukan rahasia lagi bahwa dunia pendidikan Islam masih berada pada taraf on going process dan on going formation baik secara teoritis maupun praktis. Perguruan Tinggi Islam yang dari aspek pendidikan digawangi oleh Fakultas Tarbiyah, secara konseptual memerlukan pemikiran lebih mendalam di wilayah epistemologi. Sebuah pengetahuan atas ilmu pengetahuan hanya diketahui setelah mengetahui pengetahuan itu sendiri, prisnsip-prinsip, argumentasi-argumentasi, dan ketentuan-ketentuan persepsi sehingga mungkin untuk mendefinisikan kemungkinan-kemungkinan manusia dapat mengetahui atau tidak. Sehingga pengetahuan seseorang tidak ditegakkan pada kapabilitas minimal atau maksimal dari kapasitas indera dan rasionalnya.[2]

Relefansi Pemikiran Pendidikan Islam di Perguruan Tinggi:

Pergumulan antara Kebijakan Pendidikan dan Praktek Pendidikan.

Kita masih sering menemukan ketidak sesuaian antara kebijakan politik pendidikan dengan prakteknya dalam rutinitas perguruan tinggi, baik secara paradigmatik yang teraktualisasi dalam praktek belajar-mengajarnya. Terkesan seolah-olah sebuah dinamika pendidikan menjadi sangat sulit diobjektifikasi dari konsepsinya yang secara filosofis membentuk bangunan epistemologi dari proses pembuatan sebuah kebijakan pendidikan. Sehingga sinergitas antara keduanya mengalami out of control ditingkat mikro (transfer keilmuan dari dosen ke mahasiswa). Maka dari itu usaha untuk menemukan sebuah corak pemikiran yang sejalan antara konsepsi dasar dan prakteknya harus berjalan secara bersamaan tidak terkesan numerikal.

Pada umumnya, pandangan akademisi dan lebih-lebih lagi golongan awamnya, masih sulit memahami maksud diskursus filsafat. Jangankan terhadap filsafat Barat, seperti yang diusulkan Hasan Hanafi dan para filsuf yang lain terhadap diskursus filsafat Islam pun demikian pula adanya. Tanpa disadari, pemikiran masyarakat Muslim pada level historis-empiris, sesungguhnya mengalami banyak perubahan. Bahkan kadang sangat radikal. Tetapi begitu “perubahan-perubahan” itu dicoba dikonseptualisasikan lewat studi dan telaah akademik-filosofis, maka muncul bukannya sikap apresiatif terhadap hasil kajian tersebut, tetapi justru malah muncul istilah non partisipatoris.[3]

Pada dasarnya cita-cita untuk membangun sebuah tatanan pendidikan yang sejalan antara kurikulum pendidikan dan prakteknya sungguh harus menjadi acuan dasar kita dalam frekuensinya membangun pendidikan itu sendiri. Dalam kerangka ini praktisi pendidikan masih sulit menentukan sebuah acuan yang bisa menjadi acuan dalam serangkaian aktifitas belajar mengajarnya. Oleh karena itu sudah saatnya kita menjadikan praktek “belajar-mengajar” menjadi sebuah iktiar mulia yaitu “belajar bersama”.

Satu-satunya arena yang menjadi hak lembaga-lembaga Islam ialah arena pendidikan (pendidikan rohani). Jadi target dari setiap lembaga-lembaga Islam itu adalah target pendidikan, dan karenanya tidak boleh mengejar target-target diluarnya seperti kekuasaan politik, dominasi ekonomi, superioritas fisik dan lain-lain. Karena tidak satu bidangpun yang khusus merupakan arena pendidikan, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam itu bisa berupa; organisasi mahasiswa, organisasi pelajar, pers, organisasi pemuda, jama’ah masjid dan sebagainya.[4]

Apa yang dibahasakan oleh Ahmad Wahib sebagai Pendidikan Rohani perlu kita sikapi sebagai sebuah kontribusi pemikiran yang cukup brilian dalam menjawab tantangan lembaga-lembaga Islam pada masanya. Perlu disadari bahwa kekuatan dalam pendidikan Islam adalah aspek spiritualnya yang begitu luar biasa. Kekuatan spiritual tentunya tidak harus kita maknai hanya sebatas rutinitas simbolik belaka dari sekian ritual yang diatur oleh syari’ah, namun lebih pada kesesuaian antara pola pikir dan pola laku. Sehingga kaum intelektual kita tidak lagi menjadi orang yang memiliki pengetahuan namun tak berilmu.

Corak Pendidikan Islam dan Peran Kaum Intelektual.

Menurut BAB I Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1, Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; pendidikan adalah:

Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susunan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[5]

Sedangkan Pendidikan Islam; menurut beberapa orang ahli pendidikan Islam berbeda-beda akan tetapi pada intinya memiliki tujuan yang sama; diantaranya:

  1. Sayid Sabiq mendifinisikan: pendidikan Islam dengan mempersiapkan anak baik dari segi jasmani, akal dan rohaninya sehingga dia menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun umatnya.
  2. Athiyah Al Abrosyi: sesungguhnya maksud pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna.
  3. Anwar Jundi: sesungguhnya yang namanya pendidikan Islam, ialah menumbuhkan manusia dengan pertumbuhan yang terus-menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia.[6]

Dari beberapa defenisi diatas telah jelas bahwa harus ada proses humanisasi dalam corak pendidikan kita, tidak hanya sebatas paradigmatik namun pembumian dari konsepsi tersebut haruslah menjawab persoalan keummatan. Berbicara pendidikan maka kita akan masuk pada sebuah konstruksi dominan yang terlanjur menjadi stigma di masyarajat dan secara integral telah terinternalisasi dalam frame berfikir kita, yaitu pendidikan selalu dilekatkan pada dunia yang oleh sistem  dikonotasikan sebagai pendidikan formal. Maka wajar jikalau orang yang terdidik adalah orang yang sudah menempu jenjang pendidikan formal yang kami sebut diatas tadi.

Dominasi corak pendidikan yang seperti kami sebutkan diatas kemudian memposisikan kaum intelektualnya pada fase yang secara normatif mengalami kegamangan dalam menentukan posisi dan perannya untuk melakukan perubahan. Sehingga terlenalah kita dalam ruang dan waktu dimana orientasi dari pelekatan pendidikan untuk memanusiakan manusia tidak mampu kita transformasikan untuk menjawab persoalan keummatan. Islam itu anti terhadap kemiskinan tapi bukan berarti “memberantas” orang miskin melalui kebijakan politik pendidikan dalam kerangka kurikulum dan sistemnya secara monoton hanya mengakumulasikan materi semata.

Meminjam istilah Zamroni, bahwa pendidikan Islam di Indonesia masih merupakan impian belaka. Pendidikan Islam dalam realitas, baru merupakan: (a) Pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga Islam, (b) pendidikan agama Islam yang disampaikan di perguruan tinggi, dan (c) perguruan tinggi yang bertujuan menghasilkan sarjana dibidang ilmu-ilmu agama Islam. Perguruan tinggi Islam jumlahnya sangat banyak,tetapi dalam peta perguruan tinggi di Indonesia kebanyakan menempati posisi di pinggiran. Untuk meningkatkan kedudukannya, dalam jangka pendek perguruan tinggi Islam harus mampu memperbaharui kurikulumnya secara mendasar. Pendidikan tinggi Islam harus memiliki tipe ideal manusia seutuhnya, menurut Islam adalah al-insan al-kamil. Manusia yang memiliki pengetahuan danperilaku sebagaimana yang dimiliki Rasulullah atau setidak-tidaknya mendekati. Manusia yang terdiri atas jiwa dan raga, dengan pengetahuan yang dimiliki, jiwa bisa mengendalikan perilaku untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. Tujuan utama adalah kebahagiaan di akhirat dan kebahagiaan di dunia sebagai kebahagiaan antara. Untuk mencapai tujuan itu seseorang harus memiliki ilmu pengetahua, memiliki kebijaksanaan (wisdom), berjiwa adil dan mampu mentransformasikan ilmu yang dimiliki kedalam amal perbuatan yang berguna tidak saja bagi dirinya tetapi juga bagi lingkungannya. Sosok manusia seutuhnya tidak akan statis, tetapi selalu dinamis sesuai dengan tuntutan dan perkembangan masyarakatnya.[7]

BAB II

KOHERENSI ANTARA REVOLUSI PEMIKIRAN DAN PENDIDIKAN ISLAM

  1. A. Sebuah Sejarah.

Sebuah keyakinan diri dan kemampuan menghadapi masa depan sangat ditentukan oleh cara pandang (world view) dan corak berfikir kita untuk memberikan konfirmasi terhadap realitas. Jika Islam mengajarkan bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib sebuah kaum, sehingga mereka sendirilah merubah apa yang ada pada diri mereka. Maka tafsir yang paling sesuai dalam perubahan nasib sebuah kaum adalam perubahan cara berfikir, karena disadari atau tidak corak berfikir adalah sebuah hal yang sangat subtantif dalam diri kita. Untuk membentuk cara berfikir seseorang maka pendidikan sangat memiliki peranan penting dalam hal ini.

Max Weber menganggap bahwa keunggulan personal dalam maysarakat sangat menentukan, dan akan menampilkan ketokohan yang dimiliki kekuatan nilai (religius) dan kekuatan intelektual. Weber memandang bahwa agama adalah sesuatu penerimaan total manusia yang meliputi aspek kepercayaan (belief), upacara keagamaan (ritual), pengalaman keagamaan (experience), dan pencipta tatanan masyarakat (community).[8] Lain halnya dengan Emile Durkheim memandang bahwa agama adalah pengungkapan ikatan-ikatan sosial (fungsional). Bentuk penghapusannya berupa kekuatan sosial dan masyarakat yang ideal. Agama itu merupakan inti bagi masyarakat, juga sebagai perilaku koloektif, yang bisa menimbulkan/mendorong terciptanya hubungan baik antara individu maupun antara group/kelompok-kelompok dalam masyarakat.[9]

Secara empiris dalam historiesiecal approach menunjukkan bahwa orang-orang Islam belum dapat mengetauin, menghayati dan melaksanakan ajaran Islamsepenuhnya. Mengapa antara doktrin dan dan kenyataan pengalaman sehari-hari umat Islam berbeda? Factor apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Lafran Pane mengkaji masalah ini dalam tulisannya tentang kondisi masyarakat Islam Indonesia, dan membaginya dalam 4 golongan. Pertama, adalah golongan awam, sebagai golongan terbesar yang melakukan agama Islam sebagai kewajiban yang diadatkan, seperti pada upacara keatian dan selamatan. Golongan ini tidak memiliki pegetahuan yang utuh terhadapa agama Islam. Kedua, golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya, yang mengenal dan mempraktekkan agama Islam sesuai dengan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW seperti tersebut dalam hadits-hadits dan riwayat. Golongan ini tidak mencontoh Nabi Muhammad sebagai Rasul akan tetapi juga sifat dan kebisaaannya yang tidak lepas dari masyarakat Arab yang sangat berlainan budaya dengan Indonesia. Ketiga, para alim ulama yang terpengaruh oleh mistik dan beranggapan bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Kepentingan hidup di dunia diabaikan apalagi memperhatikan pengaruh perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesiadan dunia sekarang ini. Keempat, golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman sesuai dengan wujud dan hakekat agama Islam. Mereka berusaha suapaya agama Islam dapat diamalkan dalam masyarakat Indonesia sekarang.

Dari beberapa pendekatan diatas telah jelas bahwa sejarah pendidikan Islam begitu jelas mengalama kesenjangan sehingga tidak salah jika hari ini kita masih berada pada taraf on going process. Dari masa kemasa jika ingin dirunut secara proposisi aspek kolonialisasi juga berpengaruh pada sejauh mana keterbelakangan masyarakat pada waktu itu. Lalu kemudian kini masyarakat dihadapkan pada arus globalisasi yang terarah pada perwujudan segala aspek kepada logika “pasar” sehingga segala sesuatu baik itu pendidikan harus dilekatkan dengan kekuatan materi.

Sejarah kelam diatas seharusnya menjadi potret untuk kembali membangun sebuah pranata keilmuan dalam wadah pendidikan formal yang lebih humanis teosentris seperti apa yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Achmadi dalam bukunya “Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisme Teosentris.[10] Aspek amal ibadah hanya dapat tertuang dengan massif jikalau polarisasi berkehidupan kita bersandar pada dinamisasi dunia dan akhirat. Sebuah alur yang sinergis untuk menjawab tantangan zaman dunia pendidikan yang telah masuk pada era modernisasi yang tanpa filtrasi dapat mengikis kebudayaan yang secara sosio-antropologis menjadi bagian penting daripada Bangsa dan Negara.

Arus budaya populer (popular culture) begitu pesatnya merasuk dan membentuk budaya konsumerisme menjadikan kita bergantung pada produk yang dijajahkan sehingga kita sudah tidak mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Maka wajar jikalau Roem Topatimasang pernah berkata bahwa sekolah tidak hanya mencetak presiden, pegawai, akademisi dll. Namun sekolah juga memproduksi para koruptor, dan segala sesuatu yang kita konotasikan sebagai profesi yang tidak terpuji.

  1. B. Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman serta Budaya Berfikir Baru yang Ingin Dikembangkan.

Apabila Islamic Studies atau Dirasat Islamiyah adalah merupakan sebuah bangunan keilmuan, yang memiliki obyek kajian, metodologi, pendekatan dan kerangka teori, maka seperti halnya Ilmu-ilmu yang lain mestinya juga memiliki pembahasan tentang filsafat keilmuannya. Seperti halnya ilmu-ilmu keislaman yang memiliki the philosophy of science, ilmu-ilmu sosial memiliki the philosophy of sosial sciences, maka ilmu-ilmu keislaman aturannya juga memiliki the philosophy of Islamic sciences.[11]

Filsafat ilmu-ilmu keislaman adalah corak dimana pencarian sebuah bangunan konsepsi akan termanifestasi sejalan dengan usaha yang dilakukan secara terus menerus. Corak berfikir seperti inilah secara sederhana bisa untuk sedikit dikembangkan sehingga mampu memberi ruang pada kontribusi pemikiran pendidikan Islam. Cara pandang kita harus dengan sinergis terarah pada pengayaan ilmu pengetahuan yang kita geluti dalam back ground disiplin ilmu masing-masing. Sehingga pergulatan wacana dalam khasanah perguruan tinggi tidak di hegemoni oleh satu disiplin ilmu saja. Bentuk konfigurasi dari upaya tersebut bisa kita bahasakan sebagai “gerakan pengetahuan”.

Bahasa gerakan pengetahuan akan menjadi pijakan dalam gerak aktifitas pengembangan corak berfikir yang dinamis dan sesuai dengan tuntutan zamannya. Gagasan ini tidak sedang ingin mendudukkan sekian banyak entities pengetahuan dalam sebuah akumulasi pengetahuan yang berorientasi pada penciptaan mazhab akumulasi pengetahuan. Namun lebih pada pengayaaan ilmu yang sedang dikembangkan oleh seseorang melalui disiplin ilmu yang digeluti.

Pada dasarnya pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakan sosial-budaya (sosial and kultural domestication). Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan, karena itu secara metodologis bertumpu diatas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total yakni prinsip bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi simultan lainnya secara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan menindas tersebut.[12] Inilah makna dan hakekat praksis tersebut, yaitu:

Pendidikan termasuk wilayah muamalah duniawiyah. Maka menjadi tugas manusia untuk memikirkannya terus menerus sirama dengan perubahan zaman. Prinsip-prinsip pendidikan Islam telah telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW, dan telah terlihat hasilnya karena beliau mampu mengkomunikasikan Islam agama fitrah dengan fitrah manusia.[13] Islam sebagai sistem  nilai dalam perjalannya harus mampu menjadi sumber daripada kebenaran itu sendiri. Poros ilmu, iman dan amal adalah tonggak fitrawi yang secara sadar ataupun tidak adadalam diri manusia.

Penindasan, ketidakadilan atau apapun nama dan apapun alasannya, adalah tidak manusiawi. Semua hal itu adalah sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi).[14] Sebuah akar pemikiran pendidikan yang bercorak Islam sudah seharusnya memiliki keberpihakan sebagai eujud transformasi paradigmatik dalam tataran sosial. Implementasi dari model berfikir seperti inilah yang disebut sebagai kesesuaian antara pola pikir dan pola laku. Ada suatu hal yang perannya tidak kecil sulit dalam membuat filosofi sulit dibincangkan, yakni kenyataan bahwa secara tradisional telah didekati dalam sedikitnya tiga cara mendasar:[15]

1)      Sebagai sebuah proses aktif ‘berfilosofi pendidikan’ (educational philosophizing), menggunakan analisis problema atau pendekatan analitis

2)      Sebagai sebuah pendekatan sistem  formal dimana sistem -sistem mendasar dalam filosofi, misalnya realisme dan idealisme diterapkan ke dalam pendidikan

3)      Dibalik kedok filosofi-filosofi pendidikan yang kurang lebih mengandung warna kedirian (keyakinan-keyakinan, prakiraan-prakiraan pribadi) orang yang berfilosofi itu.

  1. C. Pendidikan Islam serta Relevansinya dalam Penciptaan Peradaban Indonesia.

Membincang persoalan pendidikan Islam, pada dasarnya kita sudah terlanjur masuk dalam ranah konstruksi stigma pendidikan yang melekat dengan sebuah institusi keagamaan. Legitimasi dari supermasi institusi inilah yang kemudian menjadi sebuah kekuatan yang bersifat “mendua”, diatu sisi memeiliki kekuatan secara sistemik dan disis lain memiliki kekuatan doktriner. Sebuah keeniscayaan pengetahuan secara absolute sebenarnya membelenggu, kaerna terarah pada sebuah dinamika yang monoton semisal pembatasan masa belajar di perguruan tinggi. Pendidikan Islam harus mampu menampilkan sebuah eksperimentasi sains tidak hanya dalam kerangka wacana. Namun memiliki konfigurasi yang jelas dan sistematis.

Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim. Initerbukti dari jenis-jenis penyebutan lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai ilmu ‘Aqâ’id (Ilmu Akidah-akidah,yakni Simpul-simpul [Kepercayaan]), Ilmu Tawhỉd (Ilmu tentang Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushûl al-Dỉn (Ushuluddin, yakni Ilmu pokok –pokok Agama). Di negeri kita,terutama seperti yang terdapat dalam sistem  pengajaran madrasah dan pesantren, kajian tentang Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain tersebut diatas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul kepercayaan, masalah Kemaha-Esaan Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. Karena itu, tujuan pengajaran Ilmu Kalam di madrasah dan pesantren ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang benar. Maka dari itu pendekatannya pun bisaanya doktrin, seringkali juga dogmatis.[16]

Orientasi sebuah pendidikan adalah pilar utama sebauh peradaban, aspek inilah yang seringkali secara akses begitu sulit dijangkau oleh sebagain besar masyarakat Indonesia. Dampak ini secara integral begitu kental terasa dimana sebuah tatanan masyarakat akan semakin kesulitan menentukan arah daripada sebuah pranata sosialnya. Maka wajar jikalau peradaban yang dicita-citakan semakin menjadi mimpi yang tak dapat ditemui di dunia  empirik. Corak pendidikan kita disadari atau tidak telah memasuki babak baru dimana dari tahun ketahun baiaya pendidikan semakin meningkat. Dan konstruksi ini telah menjadi sebuah budaya baru dimana pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mahal. Efek domino dari proses itu adalah keterbelakangan begitu derasnya merambah sebagian besar masyarakat Indonesia. Bisa diperkirakan bahwa potret demikian itu akan menghambat peradaban itu sendiri.

Munculnya banyak kekerasan dan kerusuhan di Indonesia beberapa tahun terakhir yang melibatkan sentiment keagamaan patut mengundang gugatan terhadap ketidak berdayaan pendidikan agama itu sendiri. Apa yang salah dengan sistem  pendidikan agama di Indonesia selama ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membedakan “pendidikan” dan “pengajaran”. Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran. Pengajaran dapat dikatakan sebagai proses transfer ilmu belaka, bukan transformasi nilai-nilai kepada anak didik dan pembentukan kepribadiannya dengan segala aspek yang dicakupnya. Pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan “tukang-tukang” atau spesialis yang terkurung dalam ruang spesialisasinya yang sempit, yang karena itu, perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis.[17]

Azyumardi azra, seorang pemikir Muslim Indonesia dewasa ini, menegaskan bahwa perbedaan antara pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik disamping transfer ilmu dan keahlian. Dengan proses semacam ini, suatu bangsa atau Negara dapat mewariskan nilai-nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran, dan keahlian kepada generasi mudanya, sehingga mereka betul-betul siap menyongsong kehidupan.[18] Dengan demikian pendidikan mengandung arti yang tidak hanya berupaya mencerdaskan anak bangsa, namun bertanggung jawab pada penciptaan sebuah peradaban. Pendidikan dengan segala bentuk pengetahuannya mampu menggerakkan dan mencerahkan seluruh elemen dari masyarakatnya. Untuk menopang cita-cita besar tersebut peran kaum intelektual muda Islam sebagai pioneer daripada perubahan merupakan sebuah keharusan untuk melakukan sebua revolusi pemikiran dalam konteks pendidikan Islam. Sehingga mampu bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirhidhoi oleh Allah SWT.

BAB III

IKHTIAR (KEMERDEKAAN MANUSIA) MENUJU IDEOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

Islam sebagai agama lahir bersamaan dengan hadirnya manusia pertama, Nabi Adam a.s. Saat itu pula pendidikan Islam dimulai oleh Allah yang mendidik dan membimbing manusia pertama yaitu Adam sebagai subyek didik, dengan mengajarkan ilmu pengetahuan (nama-nama benda) (Q.S. al-Baqarah: 31), yang tidak diajarkan kepada makhluk lain termasuk kepada malaikat sekalipun. Selain itu Allah juga membikan bimbingan “norma kehidupan” untuk memelihara harkat dan martabat manusia (larangan mendekati pohon terlarang) (Q.S. al-Baqarah 35).

Pemaknaan kita terhadap Islam itu sendiri haruslah menyeluruh dan tidak parsial, sehingga nilai-nilai kebenaran yang terkandung didalamnya mampu kita fahami secara seksama. Islam sebagai sumber kebenaran adalah manifestasi dari kebenaran itu sendiri, sehingga kita tidak sedang memposisikan Islam itu sendiri sebagai bangunan Ideologi, namun hasil penalaran kritis terhadap sumber kebenaran itulah yang menjadi Ideologi. Hasil penalaran dari sekian banyak ikhtiar yang dilakukan merupakan sebuah upaya untuk menemukan corak Ideologi dari pendidikan Islam itu sendiri.

Istilah ideologi paling sering dihubungkan dengan dua pemikir besar; Karl Marx dan Karl Mannheim. Bagi Marx, ideologi-ideologi politik pun tak pelak lagi sebagian merupakan pembenaran bagi materi yang ada atau organisasi ekonomi masyarakat. Sementara konsep Mannheim tentang sebuah ideologi total (sebagai lawan dari konsepnya tentang sebuah ideologi tertentu) pada intinya sama dengan Marx, dan dalam bukunya Ideologi dan Utopia (Ideologi dan Khayal) ia minta perhatian terhadap kenyataan bahwa ideologi paling bisa dipahami dalam proses kesejarahan yang terbuka.[19]

  1. A. Gerakan Pengetahuan Sebagai Basis Perubahan

Sebuah diskursus yang dibangun dibawah nalar kritis senantiasa digawangi oleh kelompok muda progresif yang memiliki orientasi pada transformasi, bisa berupa gagasan maupun tindakan. Bahasa “gerakan pengetahuan” adalah sebuah gagasan yang tidak hanya memiliki etos perubahan namun penguatan ilmu pengetahuan pada basic demand masyarakatnya. Sebuah pengetahuan yang “menggerakkan” sehingga mampu membongkar bangunan kesadaran masyarakat yang terlanjur mapan oleh produk sains berupa materialisasi produk-produk yang menjadi kebutuhan primer masyarakat itu sendiri.

Dalam kehidupan masyarakat kontemporer arus westernisasi disatu sisi merupakan sebuah keharusan, dikarenakan corak berfikir yang juga harus modern. Asumsi ini menjadi sebuah tantangan yang seharusnya dijawab oleh genrasi muda intelektual Muslim. Pada dimensi keagamaan dominasi normatif selalu menjadi alur problematic dalam menentukan sikap penjabaran sebuah masalah. Persoalan kemiskinan semisal dijawab dengan “sabar”, konotasi ini kemudian tidak ditopang oleh sebuah usaha yang progresif-revolusioner. Konsepsi normatif seharusnya dihadapkan pada konteks yang secara ril dihadapai oleh masyarakat itu sendiri.

Ketika konsep pendidikan Islam tidak dihadapkan pada persoalan-persoalan empiris-sosiologis dan hanya bergulat pada persoalan normatif maka pendidikan Islam bisa terjebak pada ideologi positivisme yang cenderung menafikan arti penting kritik atas realitas sosial. Dibawah kekuasaan positivisme, pendidikan Islam bisa berhenti aktivitasnya dalam mengonstruksi language of criticue (Giroux, 1993), yaitu sebagai media kritik terhadap realitas sosial. Jika ini terjadi, pendidikan Islam disangsikan punya peran yang signifikan dalam membentuk kehidupan public, politik, dan kultural serta melegitimasi bentuk-bentuk tertentu kehidupan sosial.[21]

Pada prisnsipnya sebuah ideologi pendidikan Islam adalah dasar bagi segala aktifitas baik berupa kurikulum dan kebijakan pendidikan itu sendiri. Khasanah keilmuan akan terlihat coraknya jikalau dia memiliki bangunan ideologi yang termanifestasikan dalam gerak proses di dunia pendidikan formal. Akumulasi gagasan dari prosesi itulah yang kita sebut sebagai gerakan pengetahuan, bukan menjadikan semua disiplin ilmu menjadi sebuah mazhab baru atau cabang ilmu pengetahuan baru. Namun lebih pada pengayaan etos disiplin ilmu pengetahuan yang digeluti oleh masing-masing kita.


Fazlur Rahman mengingatkan umat Islam agar mewaspadai akibat dari fragmentasi ilmu pengetahuan. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa fragmentasi ilmu pengetahuan telah mengakibatkan manusia menjadi robot, yakni makhluk menkanis dan pribadi terpecah-pecah (split personaliry). Rahman berusaha mengembalikan manusia pada pribadi yang sebenarnya, yaitu kepribadian yang utuh (integrated personality). Sampai disini dapat disimpulkan bahwa karakteristik pengetahuan menurut Fazlur Rahman ada tiga, yaitu (1)Pengetahuan diperoleh melalui observasi dan ekperimen (2) Pengetahuan selalu berkembang dan bersifat dinamis,dan  (3) Pengetahuan merupakan kesatuan organic. Ketiga karakteristik pengetahuan menurut rahman itu, secara sederhana, dapat diskemakan sebagai berikut.[22]

Serangkaian kerangka diatas dapatlah menjadi sebuah pijakan awal kita dalam menentukan corak ideologi yang akan kita gunakan dalam aktifitas keilmuan. Dengan menjadikan Islam sebagai sumber nilai atau sumber kebenaran maka jelaslah begitu kaya dan luasnya khasanah keislaman yang masih bisa dicapai oleh umat Islam dan genrasi mudanya untuk menjawab tantangan zamannya. Perubahan adalah sebuah keharusan dari hasil kontekstualisasi daripada keilmuan yang diperoleh darimanapun, keniscayaan perubahan itulah menjadi sebuah fase perjuangan yang dilakukan secara terus menerus, salah satu ruang yang bisa digunakan untuk mengekspresikan ikhtiar itu adalah sebuah wadah yang tadi kita bahasakan sebagai “gerakan pengetahuan”.

  1. B. Fitah Manusia dan Kecendrungannya Kepada Kebenaran (Hanief) dalam Membangun Peradaban.
    1. 1. Pengertian-Pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan

Sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu; Fitrah. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (hanief) (Q.S. ar-Rum ; 30). Hati nurani adalah pemancar keinginan kepada kebaikan, kesucian dan kebenaran. Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang Mutlak atau yang Terakhir, Yaitu Tuhan yang Maha Esa (Q.S. adz-Dzariyat ; 56). Fitrah merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan prinsipil membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain. Dengan memenuhi hati nurani, seorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.[23]

Telah dijelaskan diatas bahwa fungsi manusia secara fitrawi adalah selalu cinta akan kebenaran. Bentuk kecintaan itulah secara ekplisit senantiasa mewarnai dan membingkai setiap ruang gerak manusia sejati dalam berkehidupan dengan masyaraktnya yang plural dan harus menjadi sebuah gejala masyarakat intelektual muslim yang meng-Indonesia. Tindakan yang senantiasa progresif diengan tidak hanya menyandarkan diri pada postulat-postulat nilai namun mencoba melakukan kontekstualisasi dalam penciptaan sebuah peradaban yang menyatukan kaum intelektual dengan masyarakat tidak hanya “Negara”. Asumsi Negara yang kami maksud adalah sebuah pencapaian ruang kekuasaan melalui politik an sich belaka. Sudah saatnya genarasi menjadi pembaharu dengan kekuatan pengetahuannya.

Seseorang layak memiliki sesuatu atau suatu kondisi ketika kepemilikannya berjalan harmonis dengan kebaikan tertinggi. Kita dapat dengan mudah melihat bagaimana semua kelayakan ini menjadi persoalan tindakan moral, karena ini menjelaskan kondisi segala hal (yang menjadi bagian dari kondisi seseorang) didalam konsep kebaikan tertinggi, yaitu partisipasi di dalam kebahagiaan. Dari sini disimpulkan bahwa orang tidak boleh memandang moral itu sendiri sebagai doktrin kebahagiaan, yaitu sebagai satu instruksi tentang bagaimana memperoleh kebahagiaan. Moral hanya berkaitan dengan rasional (conditio sine qua non). Kebahagiaan dan tidak terkait dengan sarana untuk mencapainya. Namun ketika moral (yang hanya memaksakan kewajiban dan tidak menyediakan aturan bagi harapan-harapan egois) sepenuhnya dijelaskan, dan suatu harapan moral telah dimunculkan untuk mencapai kebaikan tertinggi (membawa Kerajaan Tuhan kepada kita), yang merupakan satu harapan yang didasarkan atas hukum dan sesuatu yang tidak memberi tempat kepada pikiran egois, dan ketika demi harapan ini langkah menuju agama telah dilakukan – maka etika yang dapat disebut sebagai doktrin kebahagiaan, karena harapan akan terciptanya hal ini mula-mula muncul dari dalam agama.[24]

Akal budi manusia secara praktis akan selalu bersandar pada realitas dimana dia berada, hasil objektifikasinya bersamaan dengan nilai-nilai normatif yang diyakininyalah akan memberikan konfirmasi terhadap realitas. Pola yang sinergis antara tingkah laku dan fikiran akan membawa kita pada proses penalaran dari teks normatif ke konteks objektif. Melalui agama manusia akan mencapai puncak kebaikan tertinggi yang secara fitrawi telah tergariskan melalui postulat-postulat agama yang diyakini. Atas dasar kepercayaan terhadap pencipta alam semesta manusia mampu menjabaekan sekian banyak hal yang ada di alam raya ini.

Seorang manusia sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan psikisnya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan kesenangan, kerja baginya adalah kesenggangan dan kesenangan ada dalam dan melalui kerja. Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri, menyatakan ke luar corak perorangannya dan mengembangkan kepribadian dan wataknya secara harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individual dan kehidupan komunal, tidak membedakan antara perorangan dan sebagai anggota masyarakat, hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama umat manusia. Baginya tidak ada pembagian dua (dichotomy) antara kegiatan-kegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik ataupun dunia akhirat. Kesemuanya dimanifestasikan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran (al-Bayyinah: 5).[25]

  1. 2. Melalui Pendidikan Islam menuju Peradaban Madani

Dijelaskan diatas bahwa secara integral tidak seharusnya kita melakukan dikotomi antara kehidupan individual dan kehidupan komunal, atau dengan istilah lain bisa kita sebit dengan independensi etis dan independensi organisatoris. Melalui tingkah laku individu secara bersamaan juga harus mampu memberikan efek positif bagi kehidupan komunal. Inilah yang kita sebut sebagai aktualisasi daripada tauhid itu sendiri. Motif keebnaran haruslah bersandar pada relasi antara individu dan masyarakat sehingga untuk menopang peradaban bangunan kesadaran tidak hanya berangkat dari kaum intelektualnya saja namun bersinergis antara transformasi kepada masyarakat sebagai people power.

Mengutip apa yang disebutkan oleh Michel Foucault dalam bukunya Kegilaan dan Peradaban. Jika kegilaan menjadi kebenaran pengetahuan, ini disebabkan pengetahuan merupakan sesuatu yang absurd, dan meski mengalamatkan dirinya sendiri kepada buku-buku agung mengenai pengalaman, ia telah kehilangan jalannya dalam debu buku-buku dan debat-debat yang malas; proses belajar menjadi sebuah kegilaan melalui akses yang sama dari kekeliruan belajar.[26]

O vos dosiores, qui grandia nomina fertis, Respicite antiques patris, jurisque peritos. Non in candidulis pensebant dogmata libris, Arte ses ingénue sitibundum pectus albant.[27]

(Wahai kalian orang-orang terpelajar yang menyandang nama besar, Lihatlah kembali kepada bapa-bapa pendahulu yang belajar dalam hukum. Mereka tidak menimbang-nimbang dogma dalam cahaya buku-buku putih, Namun memuaskan kehausan hati mereka dengan kemampuan alaminya.)

Pendidikan pada dasarnya menjadikan manusia sebagai sebuah entitas yang mampu secara individu maupun komunal untuk memberikan manfaat kepada sesamanya. Proses pemanusiaan manusia adalah sebuah keniscayaan dalam dinamika ini, etos pendidikan Islam harus senantiasa menghadap pada pola relasi atau interaksi yang harmonis dan secara gamblang mampu menjadi sebuah efek daripada perubahan. Pola-pola pendidikan harus juga mengarah pada proses humanisasi seutuhnya sehingga hasil objektifikasi normatif yang dilakukan secara eksistensi mampu ditemuakan dalam dunia realita.

Manusia yang fana[28] di dunia ini membentuk suatu spesies yang didefinisikan dalam suatu difinisi spesies: binatang dan differentia (pembeda) spesifik yang rasional (keberakalan); jenisnya diambil dari bentuk fisik di alam materi, sedang differentia-nya diambil dari bentuk jiwa. Tapi jiwa-jiwa manusia, setelah pada awalnya sebua bermula dari satu spesies, akan menjadi berbeda dalam hakikat mereka, sesuai dengan modus keberadaan lain dan keadaan alami fundamental kedua.[29]

Kesesuaian ditas adalah fitrah yang secara implicit mencakup esensi manusia dalam mewujudkan eksistensinya dalam pergulatan empirik, jika dispesifikasi pada dunia pendidikan Islam, maka peran seorang individu sangat berarti bagi penciptaan sebuah peradaban. Kesadaran yang berangkat dari pengetahuan yang menggerakkan dan mampu memberikan sebuah transforasi pencerahan dalam tataran masyarakatnya. Pendidikan Islam, adalah sebuah wadah yang harus degerakkan melalui kekuatan pengetahuan kaum muda intelektual muslim yang progresif dan dinamis dalam menjawab tantangan zamannya. Konfigurasi dari penalaran panjang inilah yang secara sinergis dan kontiniuitas akan membentuk sebuah peradaban yang berangkat dari dunia pendidikan Islam sebagai khasanah atas segala kebutuhan ummat dan negaranya.

  1. C. Quo Vadis Pendidikan Islam; Mengisi Peradaban dengan Gerakan Pengetahuan

Gejolak dan geliat peradaban ketika telah mencapai masa kejayaannya perlu dituangkan sebuah gagasan-gasan yang menjadi tonggak aspiratif atas segala bentuk pengisian dan pegarahan masyarakat madani. Sebuah masnyarakat yang tentunya senantiasa menyandarkan kesadaran spiritualnya pada model transendensi Ilahiyah. Maka stigmatisasi yang awalnya selalu dihegemoni oelh dunia pendidikan formal yang secara sistemik menjadikan masyaraktnya sulit menjangkau akses untuk menikmati, mampu menjadi sebuah penciptaan taman-taman belajar yang betul-betul bermuara pada pola masyarakat kompetitif dan siap dengan persaingan disegala lini.

Pencapaian cita-cita ini adalah aspek yang secara proses memang cukup panjang dan pergulatan itu sebenarnya menjadi mata rantai kehidupan dan hukum alam yang senantiasa harus selalu diprakarsai oleh genrasi ke genrasi selanjutnya. Masyarakat dimana dominasi kelas sudah tidak menjadi tapal penghalang untuk berkreasi dan penghalang produktifitas, masyarakat yang tiada lagi ibu kesulitan mencarikan pendidikan yang bermutu namun relative mampu dijangkau oleh kalangan manapun. Sebuah cita-cita yang membetuhkan konsistensi dan komitmen yang sungguh-sungguh tidak sederhana. Kenyataan inilah yang menjadi tantangan dimana peradaban telah muncul dan menjelma menampakkan dirinya untuk menopang masyarakatnya.

Persoalan keadilan merupakan salah satu persoalan pokok yang disadari ummat manusia semenjak mereka mulai berfikir. Segera setelah umat manusia menginjak pola kehidupan bernegara (yang dimulai oleh bangsa Sumeria dilembah Mesopotamia sekitar lima ribu tahun yang lalu) masalah keadilan dalam pemerintahan banyak menyibukkan para pemikir, khususnya para pemimpin agama yang saat itu merupakan satu-satunya kelas literati dalam masyarakt. Para ahli sejarah mendapatkan bahwa cita-cita keadilan ummat manusia itu pertama kalinya secara hukum mewujud nyata dalam Hukum dan Kodeks Hamurabi (codec of hammurabi). Maka Babilonia merupakan negeri pertama kali mengenal sistem  kehidupan sosial berdasarkan hukum yang tema pokoknya ialah keadilan.[30]

Arah pendidikan Islam harus mengarah pada penciptaan tatanan yang senantiasa menyandarkan dirinya pada sebuah etos humanisasi transcendental yang tidak hanya berupaya membengun humanisasi transcendental yang tidak hanya berupaya membengun humanisasi transcendental yang tidak hanya berupaya membengun spiritualitas melalui ritual keagamaan belaka namun etos humanisasi yang mampu berarti bagi individu dan komunal masyarakat.

Pola pengisian peradaban yang tampak pada proses penciptaan masyarakat melalui gerakan pengetahuan yang digalakkan oleh kaum intelektual muda muslim adalah sebuah upaya yang tidak hanya berjalan berdasarkan pergulatan gagasan belaka, namun ada proses pendampingan yang secara spesifik menjadikan mahasiswa menyatu dengan ummat, sebagai bagian integral dirinya dengan ummat dan secara universal adalah masyarakat Indonesia tentunya. Karena sadar atau tidak dinamika yang seperti ini adalah sebuah gejala yang dapat membengun dan mengisi peradaban itu sendiri.

Pendidikan Islam harus diarahakan pada pola relasi antara manusia yang anti diskrimninasi. Pendidikan Inklusif adalah sebuah upaya untuk menopang cita-cita besar ini. Pendidikan Inklusif (inclusive education) belum banyak menjadi perhatian dalam diskursus pendidikan. Padahal di belahan bumi manapun selalu ada orang-orang yang ter-eksklusi dari pendidikan mainstream yang ada. Di Australia dan Kanada, suku aborigin, atau di Kanada disebut dengan the First Nation, punya sejarah yang kelam dan memalukan. Mereka dipaksa masuk kedalam sekolah orang kulit putih dalam rangka asimilasi, sehingga nanti ketika keluar sekolah mereka berpikir, bertindak dan berprilaku seperti orang kulit putih. Identitas bahasa, kultural , dan nilai-nilai mereka menjadi hilang. Hanya dimasa sekarangklah kesadaran akan pendidikan inklusif tumbuh.[31]

Inklusifitas pendidikan Islam adalah jawaban dari sekian banyak persoalan keummatan yang selama ini menjerat ummat yang tidak hanya secara sistemik namun juga akses untuk menikmati pendidikan itu sendiri. Semoga saja mampu menjawab persoalan yang ada.

BAB IV

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Tan Malaka pernah berucap tentang hukum perang yang berbunyi: “Dengan kodrat terpusat, dengan tepat dan dengan sekonyong-konyong, kita pecahkan gelang rantai pertahanan musuh yang lemah, dengan maksud memecah-belahkan hubungan organisasinya, dan akhirnya menghancur leburkan musuh itu”.[32]

Sebuah ungkapan yang begitu berkobar dan menyala-nyala yang dicibirkan oleh sosok “pejuang tanpa tanda jasa” Tan Malaka. Adalah sebuah keniscayaan dalam bertindak dan bergerak selalu ada aral yang melintang kiranya inilah yang kita sebut sebagai musuh. Begitu juga bentuk nyata pendidikan Islam dalam pergulatan pemikirannya, senantiasa berdialektika dalam diskursus peradaban barat dan timur. Persoalan yang sangat mendasar adalah mampukah secara militansi dan segala kemampuan membendung hegemoni dalam dunia pendidikan?. Kenyataan diatas adalah sebuah refleksi panjang dari sekian banyak ketertinggalan dalam dunia pendidikan Islam kita.

Kekuatan pemikiran akan mencapai puncak kegemilangannya jikalau itu jua ditopang oleh semangat dan progresifitas yang tinggi untuk mejadi bagian dari kaum intelektual muda muslim yang revolusioner. Makna pendidikan sudah seharusnya tidak kita maknai hanya sebatas proses belajar-mengajar di lingkungan bangku sekolah saja. Stigma yang berkembang dalam nuansa seperti ini harus dibongkar dan didekonstruksi kembali, bahwa pendidikan adalah sebuah upaya secara esensial mengembalikan kodrat fitrawi kemanusiaan seseorang. Sebuah tatanan yang memang mampu berpartisipasi dalam penempatan masyarakat yang berpendidikan. Disinilah letak pendidikan Islam yang harus bersifat universal dan mampu diakses oleh siapapun.

Pemikiran pendidikan Islam menyatu dengan ummat atau menyatu dengan “Negara” adalah sebuah konotasi yang selama ini melekat dalam generasi yang juga digodok melalui pola pendidikan Islam. Kecendrungan kekuasaan yang berlebihan pada out put pendidikan akan berakibat pada pola konsentrasi politik yang dimaknai hanya sebatas seni perebutan kekuasaan, bukan menjadikan ruang politik menjadi sebuah wadah transformasi social oleh kaum muda intelektual muslim sejati.

Alur konstruksi berfikir akan selalu melekat pada ruang dan waktu dimana ia berada, sehingga harus ada keberpihakan yang jelas dalam demarkasi yang begitu pelik ini, keberpihakan yang begitu hakiki pada kaum mustadafin. Disinilah pentingnya gerakan pengetahuan dijadikan sebagai basis perubahan dalam sekian dimensi kehidupan masyarakat modern yang sangat dekat dengan arus produksi informasi yang menggejala disegala lini.

Dunia pendidikan Islam adalah tonggak dasar dimana basic demand masyarakat mampu terejawantah dalam aktifitas belajar dan mengabdi kepada masyarakat. Tonggak utama pilar ini merupakan bagian yang cukup mendasar dalam meonpang dan merealisasikan pemikiran dalam dunia pendidikan Islam yang humanis dan universal. Praktek pendidikan Islam juga seharusnya merasuk dalam dimensi aspek kehidupan masyarakat. Sehingga proses perubahan itu menjadi sesuatu yang akan digerakkan oleh masyarakat itu sendiri dalam dinamika diskursus dari wacana menuju gerakan.

Segalah musuh harus dihadapi dengan kekuatan intelektual dan eksistensi sebuah pendidikan Islam menjadi arus gerak people power secara bersamaan dan saling mengisi untuk menjawab tantangan zaman. Sehingga cita-cita terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirhidhoi oleh Allah SWT dapat tercapai dalam kehidupan yang nyata.

Demikianlah segelumit gagasan-gagasan ini kami, semoga mampu memberikan sebuah hal yang berarti untuk bersama-sama membangkitkan kembalai kejayaan peradaban Islam melalui pendidikan Islam. Sebuah masa keemasan yang dicita-citakan oleh siapapun yang menyandang predikat muslim. Masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan karya ilmiah ini, untuk itu kami sangat membuka ruang dialog untuk kembali bersama-sama berdiskusi dan membuka ruang belajar bersama

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan bagi semua pihak yang telah membantu dan mendukung proses pembuatan karya ilmiah ini. Dan kepada almamater tercinta sebagai ruang belajar dan menimba ilmu, semoga ke depan banyak hal yang bisa dilakukan dalam menjawab persoalan keummatan. Tidak hanya sibuk dengan kemapanan dan kemegahan gedung sehingga integrasi keilmuan hanya mampu kita temui melalui jembatan penghubung antar fakultas. Sudah saatnya UIN Sunan Kalijaga dan Fakultas Tarbiyah khususnya memberaniklan diri untuk terbuka dan mampu diakses oleh semua elemen dengan kekuatan yang berangkat dari potensi yang ada dalam dirinya.

Buat Himpunan tercinta, semoga lebih progresif dan militan dalam membangun sebuah otokritik demi kemaslahatan bersama dan mampu menjadi pioneer digarda depan perubahan. Peran dan fungsi mahasiswa adalah pencipta sebuah perubahan dan penyambung estafeta perjuangan bangsa dari generasi ke generasi, sehingga corak pendidikan Islam mampu menemukan karakter dan kewibawaannya melalui kualitas yang dimiliki serta potensi yang ada padanya. Yakin usaha sampai. Wallahu a’lam bissawab.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin. (2006). Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Achmadi. (2008). Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanisme Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azhari, Kautsar dalam Th. Sumartana, dkk. (2005). Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia. Yogyakarta: Institut DIAN/Interfidei.

F. O’Neill, William. (2001). Ideology-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Freire, Paolo. (2007). Politik Pendidikan; Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Foucault, Michel. (2002). Kegilaan dan Peradaban, Madness and Civilization. yogyakarta: Ikon Teralitera.

Hanafi, Hasan. (2004). Islamologi 1: Dari Teologi Statis ke Anarkis. Diterjemakan dari buku “Dirasat Islamiyah, BAB I dan BAB II”: Yogyakarta: LKiS.

Kant, Immanuel. (2005). Kritik atas Akal Budi Praktis. Judul asli “Critique of Practical Reason”. The Liberal Arts Press, New York 1965. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Madjid, Nurcholish. (2000). Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.

Malaka, Tan. (2000). Gerpolek: Gerilya – Politik – Ekonomi. Jakarta: Djambatan.

Nuryatno, M. Agus. (2008). Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan. Yogyakarta: Resist Book.

Raharjo, Toto. et, al., (eds). (2005). Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. Masour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Raharjo/Penyunting – Russ Dilts/Kontributor. Yogyakarta: INSIST Press.

Shadra, Mulla. (2001). Kearifan Puncak (Hikmal al-Arsyiah). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sutrisno. (2006). Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wahib, Ahmad. (1995). Catatan harian, Pergolakan Pemikiran Islam. Jakarta: Pustaka LP3ES Indoneisa.


[1] Mahasiswa Fakalutas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam, sem IV. Ketua Umum HMI KORKOM UIN Priode 2008-2009

[2] Hasan Hanafi, ISLAMOLOGI I, dari Teologi Statis ke Anarkis diterjemahkan dari buku; Dirasat al-Islamiyyah, hak terjemahan Indonesia ada pada LKiS. Hal, 8.

[3] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi. Pendekatan Integratif_interkonektif. Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2006. Hal 8

[4] Catatan Harian Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, LP3ES. Hal, 109. disebutkan juga “Semua jalan yang bisa menyampaikan manusia pada pengenalan rahmat Allah dan kedewasaan jiwa bias ditempuh. Keinginan diluar target ini tidak boleh terjadi pada lembaga Islam. Dengan demikian tidak ada lagi organisasi Islamseperti sekarang. Yang ada ialah lembaga-lembaga Islam yang melakukan public service. Karena missi kerohanian yang dibawa setiap lembaga, maka gambaran lembaga-lembaga Islam itu tidak lagi sebagai badan perjuangan, melainkan berkedudukan sebagai suatu “masyarakat rohani” dengan pengurus-pengurusnya sebagai penyelenggara atau mungkin subject service dari masyarakat yang memerlukannya sebagai object service.

[5] Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Tentang Sisdiknas Dan Penjelasannya, (Yogyakarta: Absolut 2003), hlm. 9.

[6] H Abu Tauhid, Beberapa Asfek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, tt), hlm. 12.

[7] Zamroni, “Sosok Ideal Pendidikan Tinggi Islam” dalam Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, penyunting Muslih Usa dan Aden Wijdan SZ., Aditya Media, Yogyakarta, 1997, hlm 28-31.

[8] Meredith B. M. Guire, Religion The Social Centerest, (Belmount, California : Wadsmorth Publishing Company, 1981), hlm 11

[9] Ibid., hlm. 149-150

[10] Berbeda dengan humanisme pendidikan yang didasarkan pada filsafat pendidikan progresivisme (Jhon Dewey) yang kemudian melahirkan teori pengembangan SDM, paradigma humanisme teosentris juga mengakses rasionalitas, kebebasan dan kesamaan (sebagaimana pandangan progresivisme), akan tetapi dalam bingkai nilai-nilai transcendental, yang ujung-ujungnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Didalam konteks ideology pendidikan Islam, posisi paradigma humanisme dan teosentrisme ibarat pendulum. Apabila kecendrungan beratnya ke humanisme maka akan menampilkan dinamika pendidikan Islam yang liberal, sebaliknya bila kecendrungan beratnya ke teosentrisme maka akan menjadi pendidikan Islam yang konsevatif. Dalam terminology ilmu Kalam aliran Qadariyah cenderung ke humanisme, sedangkan aliran Jabariyah cenderung ke teosentrisme. Dalam sejarah peradaban Islam,golongan Mu’tazilah yang mengikuti faham Qadariyah berhasil mengembangkan pendidikan liberal yang membawa kemajuan peradaban Islam. Paham jabariyah yang berkembang pesat pada masa kemunduruan peradaban Islam cenderung ke teosentrisme yang disimbolkan dengan pesatnya pendidikan keagamaan dengan pendekatan fikh dan mistis. Posisi pendulum yang seimbang antara arah humanisme dan teosentrisme merupakan pendidikan Islam yang ideal, yang secara normative akan menghasilkan manusia yang seimbang antara fakir dan dzikir serta amal shalih. (Prof. Dr. Achmadi, “IDEOLOGI PENDIDIKAN ISLAM, Paradigma Humanisme Teosentrisme”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet ke II 2008), hlm 4-5.

[11] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi. Pendekatan Integratif_interkonektif. Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2006. Hal 68.

[12] Paulo Freire, Politik Pendidikan; Kebudayaan dan Pembebasan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta Cet Ke VI, 2007. hal xiii.

[13] Prof. Dr. Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, Paradigma Humanisme Teosentrisme. Pustaka Pelajar, Yogyakarta Cet II. hal 18-19.

[14] Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. Kontributor INSIST Press, Januari 2005. Yogyakarta, hal 8. Dehumanisasi bersifat mendua, dalam pengertian terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas. Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tak berdaya dan dibenamkan kedalam “kebudayaan bisu” (submerged in the culture of sielence). Sedangkan kaum minoritas penindas menjadi tidak manusiawi karena telah mendustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi manusia sesamanya.

[15] William F. O’neill, Ideologi-Ideologi Pendidikan, Pustaka Pelajar. Yogyakarta hal. 12

[16] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan. Yayasan Wakaf Paramadina. Jakarta, 1992. hal 202

[17] Kautsar Azhari Noer dalam Th Sumartana dkk, Pluralisme,Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia. Diterbitkan oleh Institut DIAN/Interfidei. Yogyakarta, 2005. hal 225

[18] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru (Jakarta: Logos 1999), hal. 4.

[19] William F. O’neill, Ideologi-Ideologi Pendidikan, Pustaka Pelajar. Yogyakarta hal. 31

[20] Ibid hal. 44

[21] M. Agus Nuryatno. Mazhab Pendidikan Kritis; Meyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan. Resist  Book, Yogyakarta 2008. hal 95-96

[22] Dr. Sutrisno, M. Ag. Fazlur Rahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2006. hal 102-103

[23] Nilai-Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam.

[24] Immanuel Kant, Kritik atas Akal Budi Praktis. Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2005. hal 213-214.

[25] Nilai-Nilai Dasar Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam.

[26] Michel Foucault, Kegilaan dan Peradaban; Madness and Civilization. Ikon Teralitera, Yogyakarta 2002. hal 27. Desebutkan juga, berdasarkan tema yang telah lama dikenal menjadi sindiran masyarakat, kegilaan disini terlihat sebagai hukuman yang menggembirakan dari pengetahuan dengan praduga-praduganya yang tidak peduli.

[27] Sebastian Brant, Stultifera Navis, terjemahan dari bahasa Latin pada tahun 1497, baris Ke 11.

[28] Disnini dan dalam banyak tempat lainnya, Mulla Shadra menggunakan istilah bahasa arab basyar (“manusia yang akan mati” atau “yang pasti mati”) untuk merujuk pada fisik manusia atau aspek hewani, pada bentuk fisik particular spesies manusia dan kapasitas-kapasitas yang manusia punyai yang umum terdapat pada hewan-hewan lainnya. Sebaliknya, istilah insane (dan bentuk kata sifatnya) digunakan untuk merujuk pada dimensi neotik, dimensi universal wujud manusia yang direalisasikan sepenuhnya hanya dalam “Manusia Sempurna” (al-nsan al-kamil).

[29] Mulla Shadra, Kearifan Puncak. Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2001. hal 192.

[30] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan. Yayasan Wakaf Paramadina. Jakarta, 1992. hal 508. Kodeks Hamurabi itu berbunyi demikian: “Ketika Anu yang mulia, Raja dari Annuaki dan Enlil, Tuhan langit dan bumi penentu nasib negeri yang ditentukan untuk marduk, putera pertama Enki yang menguasai seluruh ummat manusia. Kemudia Anu dan Enlil menunjuk aku, Hammurabi…. Untuk membuat Keadilan berkuasan di negeri … untuk menghancurkan yang berdisa dan zalim, Agar yang kuat tidak menindas yang lemah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat”.

[31] M. Agus Nuryatno. Mazhab Pendidikan Kritis; Meyingkap Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan. Resist  Book, Yogyakarta 2008. hal 75. Pendidikan inklusif pada dasarnya sangat politis dan ideologis. Sebab ini ada kaitannya dengan komitmen terhadap keadilan, yaitu bagaimana anak-anak selama ini tereksklusi bisa diakomodasi dalam pendidikan Mainstrea. Salah satu kelompok yang tereksklusi selama ini adalah kaum difabel.

[32] Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya-Politik-Ekonomi, Djambatan Jakarta 2000. hal 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: